Minggu, 30 November 2014

Cerita Mimpi (dua)


"Mimpiku kacau sekali tadi malam. Ada lebih dari lima mimpi saling bertumpuk."
Memang begitu. Manusia akan selalu bermimpi lebih dari satu dalam semalam. Tapi setidaknya, ada satu mimpi yang paling bisa diingat. Begitu tanggapanku.
Dan kau melanjutkan.
"Kog begini ya mimpiku. Lantas apa yang akan kuceritakan nantinya. Ah, kukatakan baik saja nanti mimpinya."
Kau bilang begitu dalam mimpimu? Sadar bahwa kau dalam mimpi? Hahaa
"Hehee. Iya. Ya, begitulah"
Aku lebih suka jika mimpimu baik sekalian, atau buruk sekalian. Biar aku nulisnya jelas, gak tanggung begini. Mimpi lagi ya. Hehee.
"Hehehee. Beres bos"

Ditulis 281114

Pemimpi: Alfan Jamil

Cerita Mimpi (satu)


Temennya temenku cerita mimpinya padaku. Gini ceritanya:
"Aku kan solat isya agak malem ya. Habis itu aku wirid seperti biasa. Karna ngantuk, ya uda, aku tidur" aku tak menyela, kubiarkan ia melanjutkan ceritanya.
"Aku mimpi pacarku baikan lagi sama mantannya, tapi itu cuma di fesbuk. Eh, ini cuma mimpi aja kan? Gak ada efek kan?" 
Semua perkara punya dampak, bro. Tapi aku tak mengatakan itu padanya. Sebab ia bertanya untuk mengokohkan hubungannya. Kasian sekali temennya temenku ini. Dia sudah terperdaya wanita.
"Ya, tidak ada mimpi yang sejelas kenyataan. Maksudku itu belum tentu terjadi." Jawabku menenangkannya.
"Tapi aku tidur tiga kali malam itu."
" Maksudmu?" Tanyaku. Tak tahan aku diam terus.
"Setelah mimpi yang pertama, aku bangun untuk solat tahajjud dan tertidur lagi sambil berdikir."
Keren sekali temennya temenku ini. Seolah-olah hidupnya dipenuhi ibadah. Dia melanjutkan ceritanya.
"Tidur keduaku tak menghasilkan mimpi. Bangun pas adan subuh. Dan tertidur lagi sambil dikir setelah solat subuh."
Ah, walaupun sering dikir tapi tidurnya juga sering. Hahaa. Dia melanjutkan ceritanya.
"Dalam tidur ketigaku ini aku mimpi lagi. Pacarku bener-bener memilih mantannya. Dengan wajah tak bersalah ia berjalan berdampingan dengan mantannya di depanku. Kalau di mimpi pertama cuma di fesbuk. Mimpi keduaku malah dalam nyata dalam mimpi. Menurutmu gimana?"
Aku bukan ahli dalam menafsiri mimpi. Maka kukatakan padanya, "Begini, aku tak mau mengartikan mimpimu. Tapi yang jelas, di sini kau sedang terlalu sering memikirkannya dan tidak mau kehilangan dia kan?"
"Iya," dia menyela tanpa komando. Sialan, itu bukan pertanyaan tak perlu dijawab.
"Nah, saranku, cobalah kau komunikasikan lagi dengannya. Kau kroscek keadaan sebenernya gimana. Saran keduaku, kau itu orang baik, jangan jatuh hanya gara-gara satu wanita. Ingat! Rencana Allah selalu lebih indah ketimbang keinginan kita."
Temenya temenku ini diam menyimak dengan muka yang bersungut-sungut. Tak keluar lagi komentar dari mulutnya.
Sudahlah, tak usa dibaca lagi ceritanya telah usai. Salam cerita mimpi!
Dicatat tgl 281114.

Sebab Hidup Sederhana

Banyak kali ngetik sms yang kubuat untukmu. Tapi kuhapus lagi. Pada ahirnya kata-kata paling sederhana yang kukirimkan.

Ternyata pesan sederhana yang kukirimkan berupa kebodohan dan masalah. Apa boleh buat. Aku harus membuatmu tidak menyukaiku. Membenciku. Ya!

Bukannya aku tidak mencintaimu. Tapi kau terlalu sibuk dengan perasaanmu. Kau takkan sesibuk itu jika tidak memasukkanku dalam pikiranmu.

Pernah kubilang: mencintai tanpa memiliki itu adalah konsep terbodoh dalam mencintai. Kini kutau, tidak selamanya bodoh itu buruk. Ya, situasi yang klasikal.

Surabaya-Jakarta, 30 Nopember 2014

Senin, 24 November 2014

Menyerah Tapi Bukan Menyerah

•241114•
Menyerahkan segala perkara pada Allah bukan masalah kecil bagiku. Sebab Tuhanku tidak mungil. Ini sangat penting bagiku. Memang tidak pas aku memaksamu melakukannya. Tapi setidaknya, jangan sampai menyepelekan perkara penyerahan total pada Tuhan. Tuhanku Allah. Yeah, memang. Sebenarnya aku sekarang sedang belajar penyerahan. Sebab kata temenku di Lamongan, Tuhan sudah jarang dijumpai di hati manusia. Aku ingin merasakan sejuknya hati yang bersanding dengan Tuhan. Berbahagialah mereka yang hatinya selalu dengan Allah.
Mungkin inginku memang terlalu muluk bagi sebagian orang. Penyerahan total pada Tuhan. Heh! Manusia sok suci! Bah! Biarlah mereka berkata apa. Tapi yang jelas, yang menggenggam hati manusia itu adalah Tuhan. Sekuat apa usaha dan keinginan manusia tidak akan mempan melawan takdir Tuhan. Demi Allah tidak akan mampu.
Memang benar manusia punya kuasa. Diberi akal agar difungsikan untuk berfikir. Ada daya yang bisa menuntun pada pilihan-pilihan. Membuat terobosan aplikatif. Keberhasilan sesungguhnya adalah berupa usaha maksimal untuk mendapatkan tujuan. Tujuan yang tercapai hanya buah daripada usaha.
Seperti saat solat. Mau bicara solat yang diterima dan cocok di sisi Allah. Heh! Jangan mimpi! Jujur aku belum tau seperti apa rasanya solat dengan husyuk. Walau susahnya minta ampun, kita orang muslim masih saja solat. Proses itulah yang dinilai. Insyaallah begitu. Semoga begitu.
Sekali lagi, jangan sampai menyepelekan kuasa Tuhan dalam tiap langkah kita. Apalagi perkara masa depan. Solat istihorohlah! Di sana Allah akan membocorkan sedikit gambaran akan masa depan. Jangan memaksa dalang. Sebab jika itu dilakukan kau akan terbuang. Serahkan pada Allah, Ia akan menuntun kita pada kebaikan kita sendiri. Semoga kebersamaan kita adalah kebaikan yang diridoi Allah. Amin.

Minggu, 23 November 2014

Sebab Lalai

: 23 11 14 :
sudah lama sekali hatiku terpasung pada wanita. hampir satu tahun. aku jadi takut. kata temanku di semarang dulu, sekarang banyak sekali lelaki yang menuhankan wanita, diperbudak wanita. sepertinya aku termasuk salah satunya. sampai-sampai tidak mau kehilangan dia. tapi ya Allah aku benar-benar menginginkannya. maafkanlah ya Allah, sebab engkaulah sang mahamaaf.

kemaren karena kecapean aku lalai tidak solat duhur. pulang sekolah jam satu siang. aku istirahat di kamar. tidur. aku sudah ragu akan bisa bangun sebelum asar. untuk mengantisipasi, kuubah alarm jamku pukul setengah dua siang. sialnya aku bangun jam tiga. bangun pas mendengar adan asar.
  
sepertinya tidak solat pada waktunya termasuk dari menyalakan sumbu masalah manusia. sebab setelah itu semuaku masalah jadi teringat. masalah perempuan yang selalu kuharapkan. mbaknya yang pernah kutanyai menjawab takkan memberikan adiknya. katanya bisa mengganggu kuliahnya. bayangan prediksi keluargaku masa depan yang katanya akan jadi rumit dan ribet, bahkan berakibat fatal mengkristal jadi perceraian. pihak keluargaku yang masih mengambang saat kuceritakan tentang pilihanku. masalah es duaku yang belum juga kumulai. pengambilan ijazah es satuku juga tak kulirik. laporan pengabdian belum kugarap sama sekali.dan masalah bagaimana mengantar anak-anak asrama menjadi santri yang soleh.

bangun tidur aku jadi kacau sebab masalah semuanya jadi teringat. untung masih ada temanku yang mau mendengar keluhku, ebi dan edi. dua orang ini menguatkanku. memotifasiku. terimakasih kawan, kalian memang teman yang baik. kalian mendukung rencana-rencanaku. bukan sekadar mendukung, tapi juga memberikan solusi-solusi. ebi memberi masukan bagaimana kita selayaknya. jangan terlalu mengatur orang lain untuk baik, tuntunlah diri sendiri menjadi baik, niscaya Allah akan memberikan yang layak. sebab Allah mahamelihat. dan edi memberiku banyak sekali makanan dan satu minuman segar. kita ngobrol tentang segalanya.
  
untungnya, pagi kemaren aku ngaji hikam di musolla pada pengasuh, k.h. moh. zuhri. kiaiku yang paling kuta'dimi. yang selalu akan kujadikan pedoman setelah orangtuaku. bahwasanya tujuan manusia sebenarnya di muka bumi ini adalah taqorrub ilallah (mendekat pada Allah). sedang tujuan setan adalah membuat manusia lupa akan tujuannya. cara terbaik melawan itu dengan cara menyerahkan segala perkara pada Allah. jika ada masalah haturkan pada Allah, maka Ia akan membimbing kita pada jalan keluar yang baik. caranya bisa dengan solat istihoroh.
  
tapi jika kita mengusahakan segala hal dengan kemampuan diri sendiri, niscaya Allah akan mengabaikan kita. bahwa manusia semacam itu adalah manusia yang sombong, yang sudah mengaku dirinya pasti bisa tanpa adanya kekuatan Tuhan.

padahal manusia tidak punya daya dan kekuatan dalam melakukan sesuatu. la haula wa la quwwata illa billahil'aliyyil'adim. jika sudah jelas demikian, mengapa kita masih memaksakan kehendak diri? segala keinginan harus terpenuhi? Tuhan pun dituntut untuk mengabulkan? semoga saja aku tidak termasuk dari manusia pemaksa. jika keinginan tidak nyata, lepaskan, relakan. sebab rencana Allah adalah sebaik-baiknya rencana. jadilah do'a kita begini: ya Allah, jadikanlah pilihanku baik bagiku. tetapi jika tidak, gantilah dengan yang pantas dan baik bagiku. amin. do'a seperti ini menunjukkan kepasrahan mutlak. semoga dan semoga. amin

kalian yang masuk dalam catatan ini, jangan diambil hati. ini hanya catatanku, tidak untuk disukai apalagi dikomentari.

Senin, 24 Februari 2014

Feeneatri


Januari, bulan yang selalu menangis. Kini mulai memasuki bulan kedua, sisa-sisa hujan masih saja membasahi Februari. Feeneatri pernah berkisah bahwa hujan itu berwarna tembaga, warna yang sederhana.  Ia bahkan bisa menutupi kesedihan dengan sempurna. Lihat saja, perawan muda tidak akan ketahuan menangis jikalau dia sedang bermandi hujan. Aku tak menjawab, tak membantah, hanya memandangnya, karena inginku hanya dia berbicara banyak-banyak. Aku suka mendengar suaranya, melihat wajahnya. Caranya bicara begitu anggun, menggerakkan bibirnya seolah sedang bernyanyi. Jika menoleh, dia juga punya gerakan eksotis tersendiri; mengeser bola matanya dahulu sebelum menggeser lehernya.
"Sudah kubilang jangan menggodaku. Aku ini bukan manusia, tidak sepantasnya kau menyukai kaumku."
"Feeneatri, tidak pernah kutemukan wanita secantik dirimu. Perilakumu juga halus dan selalu berhati-hati. Apa lagi yang ditunggu lelaki bujang jika telah dirasa menemukan pasangannya?"
"Tentu saja aku selalu cantik di depanmu, selalu sopan dan santun, itu karena kau sendiri yang menciptakanku. Fantasimu! Apa kata pembaca  cerpenmu jika mereka tahu bahwa penulisnya mencintai tokoh fiksinya sendiri?"
"Bukankah tokoh fiksi harus menurut pada apa yang penulis ciptakan! Kau juga tokoh fiksi yang aneh, Feeneatri. Bisa menentang dan merayuku, dengan keliaranmu dalam cerita. Suaramu juga penuh berahi."
"Kau pengarang sinting!" Setelah itu dia menghilang.
Kejadian itu terjadi ketika aku temenung di tanah setinggi 2392 meter, puncak Bromo. Tidak ada yang salah seorang penulis yang mencintai tokoh fiksinya bukan? Karena ada lelaki yang mencintai tembok, menjadikannya istri. Feeneatri sendiri berasal dari dua suku kata; Feenea+tri. Feenea berasal dari finny, bahasa Irlandia yang berarti perempuan cantik dan tri kependekan dari santri. Jadi feenearti berarti santri perempuan yang cantik. Aku meraciknya sebagai perempuan berwajah puisi yang memiliki kecantikan bak edelweis: sederhana namun memikat semua mata.
***
Sisa-sisa malam menyelimuti Bromo. Tidak ada angin tapi udara dingin masih menusuk-nusuk. Jaket hitam bertuliskan Nevada di dadaku sedikit melindungiku dari sengatan dingin. Ufuk timur mulai tampak sedikit merah. Banyak sekali wisatawan menumpuk di puncak, ingin menikmati matahari terbit. Aneh. Bukankah setiap hari matahari selalu terbit. Aku saja baru kali ini benar-benar memperhatikan matahari terbit. Di hari biasanya aku tak peduli, tahu-tahu aku sudah berada di kantor, mendapati tugas yang berjibun, dan matahari sudah setinggi tongkat.
“Gerakan matahari pagi lambat-lambat cepat. Warnanya kuning cerah kemerahan. Karena itulah aku menyukai warna kuning.” Seorang perempuan cantik menyahut padaku di belakangku.
“Kau siapa?” dilihat dari wajah dan pakaiannya, dia seperti Feeneatri, tokoh fiksiku.
“Aku Feeneatri,”
Tidak mungkin. Dia hanya ada dalam khayalku. Perempuan ini manusia bukan bayangan, dia memiliki bayangan.
“Kau tidak tahu ya? Ada hukum dalam dunia khayal yang menyatakan bahwa; khayalan akan bisa menjadi manusia kalau sering dipikirkan. Dan kau terlalu sering memikirkanku.”
Astaga! Dia bisa membaca pikiranku.
“Aku tidak mau kau jadi manusia.”
“Kenapa, bukankah kau mencintaiku? Jika aku jadi manusia, kau bebas mencintaiku, tak perlu berkhayal.”
“Tidak. Kau sama sekali tak tahu manusia. Mereka selalu membikin rusuh dunia. Dalam hal cinta, pasti ada gelisah dan penghianatan, lebih baik aku mencintaimu sebagai bayangan, dengan begitu kau tak kan bisa meninggalkanku, tak kan mungkin menghianatiku, karena aku yang menciptamu.”
“Dunia manusia begitu mengerikan” Tapi kau sudah terlambat, Kak. Feeneatri sudah mulai berkata dalam hati. Dan tidak ada satu manusiapun yang mengetahui isi hati manusia lainnya.
***
Wisatawan mulai membidik ufuk timur. Menangkap matahari pagi. Memenjarakan keindahan alam dalam kotak-kotak elektrik. Subhanallah, indah nian matahari pagi rupanya. Piringan matahari sedikit-sedikit mulai timbul muncul di kaki langit, seperti bayi mungil yang belajar merangkak. Kuliriki Feeneatri, tidak mungkin! bayangan tubuhnya semakin petang, pertanda dia benar-benar berubah jadi manusia. Hanya di dunia cerpen, tokoh fiksi bisa berubah jadi manusia.
Matahari setinggi tongkat. Wisatawan mulai turun, kembali ke penginapan. Ada yang naik ojek motor, ada yang menunggang kuda, tetapi aku memilih berjalan kaki, berdua dengan Feeneatri. Tangan kananku memeluk pundaknya, tangan kirinya memeluk pinggangku, kepalanya disandarkan di pundakku, kepalaku kusandarkan ke kepalanya. Seorang lelaki memotret kami, katanya kami sangat romantis. Lelaki itu tak tahu kalau perempuan di sampingku ini baru saja mengenal dunia manusia.
Jalan yang kami lalui bukan jalan beraspal melainkan jalan setapak yang penuh jejak tapal kuda. Setiap sepuluh meter Feeneatri minta berhenti, istirahat. Hey. Dia mulai mengenal capek. Dan setiap kali duduk istirahat dia memelukku, nyaman, katanya, hangat. Kali ini dia mengenal dingin. Penginapan sudah kelihatan. Aku memilih penginapan yang strategis, terletak di pinggir tebing, dari jendela sudah bisa menikmati indahnya punuk Bromo.
 “Kak, perutku sakit.”
“Aku tahu. Itu namanya lapar. Perutmu harus diisi. Ayo ke warung, kita cari soto ayam.” Kali ini dia tahu bagaimana jadi manusia kelaparan. Secara alamiah, jika perut lapar diisi makanan tentu akan merasa kenyang. Sebentar lagi Feeneatri akan mengenal kenyang.
“Ah, nikmat sekali, Kak. Tapi lidahku terasa panas.”
“Ucapkan alhamdulillah, begitu orang bersyukur biasa berucap. Lidahmu yang terasa panas itu karena pedas.” Sekarang dia tahu rasanya pedas.
Banyak sekali definisi-definisi dalam dunia manusia. Ini lebih sulit dari yang Feeneatri bayangkan. Padahal di dunia khayal tak perlu lapar, tak perlu kenyang, tak perlu dingin, tapi tetap memerlukan kehangatan. Cinta selalu menarik untuk dibikin cerita, bahkan bagi tokoh cerita sekalipun. Feeneatri yang hidupnya hanya di khayalan pun juga mengenal tentang cinta.
***
Senja telah tiba. Sebentar lagi terangnya siang akan ditaburi gelapnya malam. Waktu paling romantis di muka bumi berada di antara siang menuju malam. Waktu pulang bagi segala makhluk. Manusia yang bekerja pulang ke rumah tercinta. Burung-burung terbang menuju sarang. Tetapi aku lebih suka pulang ke khayalanku, bertemu Feeneatri di negeri rindu. Aku mencoba berkhayal, kupejamkan mataku, hanya gelap kudapat. Mata kubuka, pergi ke penginapan, tak kutemukan jua wajahnya. Di mana gerangan Feeneatri berada? Yang lebih aneh lagi ingatanku akan wajahnya yang syahdu telah lupa. Hilang begitu saja. Tanganku terasa dingin, kurogoh sakuku. Kutemukan secarik kertas.
Kak, sepertinya semua memori tentangku dalam khayalmu telah habis. Sebenarnya khayalan si penghayal bisa dihabiskan oleh si khayalan jika si khayalan berkehendak. Aku terlalu cinta padamu hingga akhirnya aku merubah diriku memiliki wujud, agar kau bisa memelukku dalam duniamu. Sekarang waktuku sudah habis. Jika kau melihat kertas ini, berati aku telah hilang, terlenyap. Dan peraturannya kau tidak bisa bertemu denganku lagi, walau di khayalan sekalipun, tidak akan bisa. Maaf.
Kekasihmu di dunia fana, tokohmu di dunia fiksi
Feeneatri

Probolinggo, 2 Februari 2014
Oleh Achmad Marzuki, Santri Pondok Pesantren Nurul Jadid

Minggu, 01 September 2013

Resensi Berjuang di Tanah Rantau

Potret Inspiratif Para Perantau
Merantaulah. Gapailah setinggi-tingginya impianmu. Bepergianlah. Maka ada lima keutamaan untukmu; melipur duka, memulai penghidupan baru, memperkaya budi, pergaulan yang terpuji, dan meluaskan ilmu.
Syair di atas diadaptasi dari bait-bait Imam Syafi'i. Banyak sekali mereka yang berhasil meraih mimpinya digapai di tanah rantau. Dari penuturan Imam Syafi'i tersebut dengan jelas dapat kita ketahui bahwa ada banyak hal yang musti didapat oleh perantau. Paling tidak ada lima. Pertama, sebagai pelipur lara. Seperti yang dikisahkan Awiek Libra dalam buku ini. Kegusaran hatinya dilepaskan dengan pergi ke Hongkong (hlm. 130).
Awiek merasa malu. Ibunya melahirkan adiknya yang kelima. Padahal keadaan ekonominya sangat tidak mendukung. Rumahnya masih terbuat dari gedek bambu. Dengan hati dongkol Awiek pergi merantau ke negeri yang bahasanya sama sekali tak dapat dimengerti. Alasannya agar ekonomi keluarganya sedikit membaik. Keharmonisan sosial akan terbentuk manakala komunikasinya terjalin lancar.
Kisah Ilham Maulana lain lagi. Ilham berniat merantau guna melanjutkan jenjang pendidikannya di bidang kimia. Lambatnya kedatangan nilai TOEFL yang awalnya membuatnya putus asa ternyata menyimpan seribu hikmah. Awalnya Ilham bermaksud melanjutkan pendidikannya di Australia. Tetapi takdir berkata lain. Ilham merantau ke Jerman dan langsung ke S3 karena nilai akademiknya lebih dari rata-rata.
Awalnya Ilham sudah putus asa karena proyek laboratoriumnya tidak kunjung menghasilkan kemajuan nyata. Sebulan lagi dia harus melaporkan perkembangan penelitiannya. Jika tidak, alokasi beasiswanya bisa dicabut. Semangat sudah luntur, niat mundur telah muncul. Saat itulah dia berkonsultasi dengan Prof. Eva, mentornya. Ilham mendapat angin segar setelah menemukan sebutir kristal dari tabung reaksi kecil yang sebulan lalu dipakainya (hlm. 15).
Hal yang tak terduga ini ternyata merupakan pintu awal menuju kesuksesannya. Ternyata butiran kristal itu termasuk dari penemuan baru, senyawa baru dalam kimia yang belum pernah terpola. Setelah lulus dari Jerman. Wajah Australia semakin jelas. Ingin sekali Ilham menambah pengetahuannya di sana. Tak dinyana, lagi-lagi ilham mendapat bintang jatuh. Ada tawaran dari Prof. Eva untuk membantu penelitian Prof. Wild di The Australian National University. Tercapailah mimpi Ilham untuk menginjakkan kakinya di Australia sebagai peneliti bukan pelajar.
Menjalani kehidupan di negeri rantau memang rentan dengan tantangan. Inilah yang akan menjadikan pribadi semakin mapan. Berani menatap masa depan yang suram, merubahnya menjadi terang tak sekadar temaram. Indonesia sebagai Negara tropis sering kali membuat jetlag warganya yang merantau. Musim tidak hanya kemarau dan penghujan, bertambah dengan musim dingin dan musim semi. Bukan masalah sepele menghadapi musim yang suhunya mencapai minus 24 derajad.
Perjalanan dinas ke luar negeri memang selalu menjadi impian setiap orang. tetapi tidak semuanya nyaman dijalanai. Rinto Priambodo harus ekstra keras melawan hawa dingin di Mongolia. Lembar-lembar pakaian harus dikenakannya tiap hari. tanpa pakaian khusus musim dingin, seseorang akan tetap merasakan dingin walau pun sudah memakai lima rangkap pakaian.
Masalah penerbangan juga menjadi kendala bagi perantau yang dalam misi proyek atau kerja bertempo. Rinto harus menunggu pesawat lebih dari 24 jam dalam perjalanannya menuju Mongolia, pulangnya pun juga begitu. Patner Rinto merasa tidak tahan dengan dinginnya yang mengigit tulang. Apa boleh dikata, proyek yang dikerjakannya tak kunjung selesai. Siang dan malam Rinto mengerjakannya. Siang di tempat klien, malamnya di apartemen (hlm. 51).
Masalah makan juga menjadi kendala. Walaupun tempo waktu selalu ditambah dan ditambah, akhirnya proyek kerjanya selesai juga dan dapat lagi berkumpul dengan keluarganya di tanah kelahirannya. Merantau dapat menambah rasa cinta pada keluarga dan Ibu Pertiwi.
Dari tiga belas kisah yang dipaparkan dalam buku ini, ada satu poin yang sama. Yaitu kegigihan para perantau dalam kegiatan hariannya guna meraih impian. Semangat juang yang ditampilkan tidak sekadar cerita belaka. Semangat inilah kiranya yang ingin disematkan dalam diri pembaca. maka tidak salah jika Ahmad Fuadi menamainya sebagai portet inspiratif para perantau di tanah rantau.
Juga tidak ketinggalan adalah kesadaran para perantau bahwa tanpa bantuan Sang Ilahi, semua tak akan berjalan lancar. Keyakinan dan keimanan para perantau di sini sangat kuat. Mereka rela meninggalkan hangatnya kasur, meraih sejuknya ibadah pada Tuhan. Tidak jarang mereka diam-diam saat melaksanakan ibadah, terutama shalat lima waktu. Ketangguhan iman benar-benar teruji manakala kita berada dalam lingkungan yang berbeda.
Tidak salah jika buku berjudul Berjuang di Tanah Rantau ini masuk dalam kategori man jadda wajada series. Membaca buku ini akan melahirkan aura semangat baru dalam menjalani hidup. Pula akan menambah rasa cinta pada sang pencipta. Harus diyakini bahwa Allah adalah tuhan yang maha tidak merepotkan. Karena segala persoalan telah disediakan solusinya. Dan semua itu akan mudah didapat jika kita benar-benar bersungguh-sungguh meraihnya.

Data Buku
Judul: Berjuang di Tanah Rantau
Penulis: Ahmad Fuadi dkk
Penerbit: Bentang Pustaka, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Juli 2013
Tebal: xvii + 180 halaman
Peresensi: Achmad Marzuki, pemilik twitter @JuckyAntik
*Pernah tayang di Jateng Pos, 1 September 2013