Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Agustus 2015

Sebab Cinta Itu Memberi



Satu
Malam itu kau menjebakku agar tetap mendengar suaramu yang tidak jelas. "Jika kau menutup telepon, aku tidak akan menghubungimu lagi." Ancammu. Aku menurut seperti sapi yang dicocok hidungnya. Suaramu yang parau, lebih tepat didefinisikan dengan igauan, sebab kau berada di dunia nyata dan mimpi, hanya membentuk irama lagu kehilangan. Pukul 02.30 dini hari kau menelepon. Begitulah dirimu, kau yang menentukan jalan.

Kantukku sudah menumpuk seperti punukan unta yang membungkuk. Kutarik sekuat-kuat kesadaranku agar tetap bisa menjawab pertanyaanmu yang hanya butuh kata iya dan h'em. Sesekali aku tercuri waktu. Kesadaranku hilang, terlelap sejenak, lalu bangun lagi untuk menjawab "iya". Tapi aku lebih suka menjawab dengan "h'em". Dengan begitu aku tak perlu membuka mulut, mengangkat rahang, menggerakkan bibir, menarik otot suara, mendorong nada, menganga.

Malam itu kau hanya butuh ditemani. Kukabulkan inginmu. Berbicara denganmu tidak membutuhkan topik menarik, sebab kaulah yang menarik. Hal paling remeh pun bisa dibicarakan. Seperti; tadi pagi Matahari muncul dari Timur. Dari saking lumrahnya malah menjadi humor murahan dalam perbincangan. Di ahir percakapan kau memintaku menutup dengan cerita. Lalu aku bercerita tentang sepasang kekasih romantis yang selalu berkirim surat yang berisi tentang akumulasi kerinduan yang tertunda. Dan kau terlelap sebelum cerita usai dikisahkan.

Saat itulah aku biasa mengungkapkan rasa cintaku. Saat kau sudah mulai merangkak dalam mimpi singkatmu. "Aku selalu ada untukmu, sayang". Dan kalimat itu selalu menjadi ending favoritku saat menutup pembicaraan dimana kau sudah terlelap di seberang telepon.

Dua
Pernah pada malam lainnya, kau datang dengan segudang bintang. Wajahmu sumringah melebarkan senyum merekah. Yah, kau mendekat membawa kabar bahwa kau baru saja didekati lelaki yang sudah lama kau idamkan menjadi pacarmu. Sampulawa, dua tahun sudah lelaki itu yang membuatku dekat denganmu. Curhatanmu tentangnya memaksaku untuk terus merapal doa agar kau lekas lepas dari kesedihan tanpa bekas. Sampulawa lah kesedihan tanpa kelemahan itu. Setiap adanya mencipta keresahan.

Kau tidak begitu memperhatikan senyum palsuku. Tidak, kau sudah tidak peduli tentang hal apapun yang membuatmu mendekati kesedihan. Saat senyumku terbentuk sedikit saja, matamu sudah melebar seperti kelopak mawar yang mekar. Alismu terangkat pertanda semangat yang meningkat. Semakin kulihat kau berbungah dada, semakin kecut pula aku mendengarnya.

Di situ aku diperlakukan bagai perekam suasana yang musti kujauhi. Tapi kau semakin mempercepat tempo berceritamu tentang Sampulawa seolah lelaki itu sehari lagi akan mati. Dan ini adalah hari terahir untuk menceriktakan seluruh kebaikannya. Tapi tunggu sebentar, kenapa aku sensi banget sama si Sampulawa ini ya? Maaf, kepada yang punya nama. Ini hanya cerita fiktif dari nama yang tidak fiktif.

Sudah tiga jam kau bercerita tentang Sampulawa ini. Lelaki yang ternyata setelah kuselidiki, juga memperhatikanmu. Mungkin di lain waktu aku perlu menusuk perutnya dengan belati beracun.

Tiga
Ternyata instingmu cukup tajam. Setelah obrolan tentang Sampulawa. Kau berubah sikap, seolah mengetahui bahwa aku tidak suka saat kau bercerita tentangnya. Tanpa musabab yang jelas kau menancapkan petuah: "Izinkan aku bersyukur akan pagi, siang dan malam tanpamu. Sama seperti sehat, untuk mengetahui nikmatnya sehat, harus sakit dulu." Maka kuikuti aturanmu.

Tiga hari tak kuhubungi. Tepat di hari keempat, kau datang dengan muka merah padam. Tanpa aba-aba kau melabrakku seolah aku musuh bebuyutanmu yang paling kau benci. "Berapa lama lagi kau akan menjauhiku? Tidak menghubungiku dan tidak terima kuhubungi?" Astaga! Sebenarnya apa sih inginmu? Kulakukan ini karena pintamu. Dan masih kau salahkan?

"Jangan salahkan wanita jika selingkuh kalau lelakinya tidak mau menghubunginya!" Apa! Logika macam apa itu? Bukankah suatu hubungan harus dibangun atas dasar kepercayaan dan pengertian? Aduh! Tapi kau bukan siap-siapaku, kan? Yeah... Setidaknya... Ah, entahlah. Tapi sebenarnya kau adalah segalanya bagiku. Andai kau tahu. Sungguh.

Maka segala hal darimu akan kuterima. Walau begitu luas sikapku padamu, tetap saja aku punya batasan, manusia selalu punya batasan. Pun keluasan hatiku tuk tetap menerimamu, memiliki batasan. Saat batasan itu telah kau lalui. Aku harus mendahului perasaanku padamu. Melepasmu, tapi tidak melupakanmu.

Empat
Seperti gulungan ombak di pantai, bergantian memukul pasir landai. Hubunganmu dengannya kadang maju dengan gulungan besar, lalu disusul air datar tanpa gelondongan. Namun, setelah setahun kau pacaran dengannya kau mulai merasakan ketidakseimbangan. Perhatianmu sangatlah besar. Sedang perhatiannya padamu seolah semakin pudar. Seperti cat merk murahan yang dilekatkan pada tembok tanpa atap. Ditampar dinginnya angin malam, diguyur basahnya hujan dan dibakar teriknya matari.

Sikap legowo yang kau berikan atas segala perlakuannya yang jumawa lambat laun mulai menipis. Kau mulai merasa tertekan dan menyimpan jarum kehawatiran. Seperti, kau yang terlalu banyak menelponnya ketimbang dia menelponmu. Memulai pesan singkat, sedang dia tidak. Memintamu mengisikan pulsanya untuk menghubungi orang lain. Seolah kau mencipta segala inginnya selalu terkabul. Tidak peduli apakah kau senang atau melarat. Kau mulai sering diam saat bertatap muka denganku. Seolah ingin menyembunyikan kegelisahanmu. Pembohong yang payah. Bahkan dengan diammu menyiratkan kejujuran bahwa kau dihantui ketidakbahagiaan.

Memang benar, dia, Sampulawa, pacar busukmu yang kau cinta, selalu berkata jujur. Tapi lidahnya seolah berduri. Kejujurannya melukaimu dengan telak. Bahkan dia bercerita dengan bangga. Kajujuran yang menyakitkan, seperti; aku masih mencintai mantanku kemaren. Dadamu serasa diperas dengan handuk keras. Sesak. Kau diam, menyunggingkan senyum pilu. Menerima irisan luka yang kian menganga. Tapi kau masih bersikukuh bahwa dia bisa berubah dengan segala sikapmu yang kau tumpahkan. Menjaring segala kesakitan demi mendapat ikan kebahagiaan. Miris sekali, menurutku.

Sebenarnya segala penilaianku di atas hanyalah bentuk dari kekalahanku pada keadaan. Tapi kurasa, kau terlalu banyak menyimpan rahasia. Tanganmu sudah penuh dengan kotak pandora. Segala isinya pasti mengandung kejutan yang menyenangkan dan menghawatirkan. Aku tak tau, lebih banyak mana. Yang jelas, segala masa lalumu akan selalu salah di matanya. Kau menerima itu sebab kau pikir, ini hanya ujian.

Sebab segala adalah menjaga.

Lima
"Aku sudah tidak tahan lagi dengannya! Muak dengan segala sikapnya! Harus berapa kali aku mengalah? Memangnya aku tidak pantas bahagia ya? Sengsara sepanjang usia?"

Itu kalimat pembukamu dalam telepon. Tidak ada basa-basi atau sekadar bertanya kabar. Ibarat orang baru bangun tidur langsung lari terbirit kencang ke kamar mandi. Belum sempat aku bicara membalas, kau melanjutkan;

"Aku ingin ketemu denganmu di tempat biasa kita mengisi waktu. Sekarang. Jangan telat ya! Aku siap-siap sekarang."

Telepon terputus.

Sudah kebiasaanmu memotong telepon tanpa persetujuan lawan bicaramu. Kebiasaan yang buruk. Tapi sepertinya kau begitu karena diperlakukan begitu oleh pacarmu yang selalu merasa ganteng. Sepengalamanku denganmu, yang sering telat dan selalu benar itu kamu. Seperti saat kau berjanji mengembalikan buku Sejarah Peradaban Islam di depan Perpustakaan Kampus. Aku menunggumu hingga dua jam dengan perut keroncongan. Dan kau datang dengan sedikit senyum manismu. Dan bilang bahwa keterlambatanmu bukan kesalahanmu, tapi karena kamar mandi hanya satu, sedang teman kosmu berjumlah lima manusia. Dan jika kau berkata sudah siap-siap itu artinya kau baru benar-benar siap satu jam berikutnya. Begitulah wanita, mahluk halus yang selalu bikin lelaki kian mampus.

Kafetarian. Semacam rendezvous bagiku. Kulirik jam tanganku, 10 menit lagi dia tak datang aku akan pergi. Kuhabiskan 10 menit dengan mengingat segala hal tentangnya. Mulai dari sikapnya yang manja semanja kelinci, siara marahnya yang tersegal nafas tak tuntas, senyumnya yang kepalang manis matang, igauannya saat telponan larut malam yang kepalang kelam, atau saat kau menutup telepon tanpa merasa harua minta ampun.

10 menit lewat. Badan kuangkat ingin membayar bill. Belum sempat kulangkahkan kaki kau datang tanpa sapa dan langsung memerintah.

"Duduk! Aku mau bicara serius sekarang."

Enam
Pada ahirnya yang selalu ada mengalahkan yang didamba. Sebab cinta bukan tentang siapa yang lebih awal dikenal atau yang lebih disayang, melainkan tentang siapa yang datang dan tidak hilang. Selamanya wanita akan menjadi misteri di mata lelaki. Hati wanita sangat tidak stabil. Bukan berarti labil. Dalam sedetik bisa saja berbeda dengan keputusan sebelumnya dengan keyakinan sekuat para pegulat yang ulet. Saat ditanya pun jawabannya tidak dapat ditakar oleh logika lelaki yang berkelakar.

Setelah kau menyampaikan maksudmu, aku hanya diam lama. Mencoba memahami alur hatimu dengan logikaku. Tapi kau sudah pernah membantah bahwa wanita tidak pandai dengan logika dalam hal cinta. Memandangi wajahmu untuk menemukan bahwa kau sedang bercanda. Namun air mukamu menyiratkan keseriusan yang sangat. Matamu berair menahan debaran hasrat yang kuat. Kau memilihku sebagai imammu. Dengan tanpa syarat kau nyatakan bahwa kau mencintaiku, memilihku. 

 Oleh Achmad Marzuki, Santri Pondok Pesantren Nurul Jadid


Dimuat di Radar Bromo, Jawa Pos, Minggu, 09 Agustus 2015

Selasa, 24 Maret 2015

Seorang Lelaki dan Beruangnya yang Tidak Mungil Lagi



Nasehat Harus Cerdas #NgitabHikamPengasuh 250315
Nasehat adalah menginginkan kebaikan dengan kebaikan. Caranya juga harus baik dan cerdas. Jangan seperti cerita "Seorang lelaki dan beruangnya yang tidak mungil lagi".
Ups... judulnya kepanjangan ya? Hehee.
Ini dia kisahnya.

Pada suatu waktu yang tak menentu, ada lelaki pecinta segala binatang. Dia berjalan pagi di hutan, bertemu anak beruang yang masih mungil. Tidak jauh dari tempatnya terdapat raungan beruang dewasa yang sekarat. Sebab rasa cinta pada binatang, ia membawa bayi beruang mungil tersebut ke rumahnya.

Masa depan tidak pernah menjauh. Sedang hari kemarin selalu bertambah jauh. Beruang mungil itu tidak lagi bisa dibilang mungil. Beruang itu sangat menyayangi tuannya. Setiap tertimpa masalah, si beruang pasti membantunya. Seperti saat ingin membawa kayu bakar. Setiap kali terbantu, lelaki tersebut menghadiahi makanan.

Suatu saat pesat, lelaki dan beruang berjalan-jalan ke tengah hutan. Sambil bergurau mereka berdua berjalan sedikit cepat. Hingga lelaki itu kelelahan. Dan tertidur di bawah pohon. Si beruang mengawasi sekitar, menjaga agar tuannya tertidur lelap tanpa gangguan.

Tiga lalat mendekali lelaki itu. Sebelum hinggap di muka tuannya, beruang itu mengibaskan tangannya, menghalau lalat. Dasar lalat! Setelah dihalau, tetap saja kembali lagi. Hingga si beruang menjadi marah. Ahirnya si beruang mencari batu besar, ingin menghantamkannya pada tiga lalat nakal itu.

Hari sial bagi si lelaki. Dia memilih teman yang pemarah dan bodoh. Sungguh sial. Si beruang menginginkan kebaikan pada tuannya, tapi dengan cara yang salah. Batu besar itu diangkat tinggi-tinggi. Ditahan sejenak, membiarkan lalat nakal itu hinggap di muka si lelaki. Lalu...

Lelaki tersebut tidur dan tidak bangun lagi. Tiga lalat nakal pergi memanggil teman-temannya. Si beruang....?

Sabtu, 21 Maret 2015

Bayangkanlah, Adik...

090315 •
Bayangkanlah adik,

Engkau sedang duduk sendiri di tepian telaga berwarna madu. Telaga yang airnya menganga menghadap langit. Air yang tenang dan diam. Langit barat menguning tua. Sinar tua matahari berwarna emas. Sore yang senja. Angin semilir bagai melintir dedaunan. Satu dua daun jatuh di atas permukaan air telaga.

Pandanganmu memang mengarah barat, tapi hatimu sedang menjelajah segala gundah yang serapah. Seluruh perutmu dirundung kehawatiran yang mendung. Murung yang tak terbendung. Engkau takut aku menyikut? Pergi menyelinap meninggalkanmu? Dengan wanita lain?

Jangan berhenti adik,
Lanjutkanlah bayanganmu...

Kini dadamu penuh gemuruh hingga menggoncangkan seluruh ragamu. Airmatamu menetes. Bukan sebab sedih atau senang, airmata kehawatiran. Bibirmu mulai mengeluarkan bunyi sesegukan dan badanmu tambah bergoncang. Menangis yang mengiris.

Saat itulah, ada lengan lelaki yang tiba-tiba memelukmu dari belakang. Merangkulmu. Ya, engkau duduk menekuk lutut. Itu tanganku, adik. "Tenanglah," kataku. Engkau hanya mengangguk dan badanmu tambah menggigil. Pelukan semakin kueratkan, kuhangantkan. 

Kudekatkan wajahku ke wajahmu hingga mukaku setara dengan telingamu. Lalu kubisikkan, "Adik, jangan hawatir. Aku tidak akan meninggalkanmu. Sebab aku akan menjagamu. Selalu. Selama-lama." Kini badanmu lebih tenang. Nafasmu mulai teratur.
"Adik..."
"Ya, kak..." kau menjawab sambil menoleh.
Lalu aku mencium keningmu, mengecup bibirmu.
Besok.
Seminggu lagi kita menjadi orangtua

*** 
---Ending yang lain---
Kudekatkan wajahku ke wajahmu hingga mukaku setara dengan telingamu. Lalu kubisikkan, "Adik, jangan hawatir. Aku tidak akan meninggalkanmu. Sebab aku akan menjagamu. Selalu. Selama-lama." Kini badanmu lebih tenang. Nafasmu mulai teratur.
"Adik..."
"Ya, kak..." kau menjawab sambil menoleh.

"Perutmu kenapa buncit begitu?" Tanyaku dengan ekspresi kaget yang kubuat-buat.
"Hahahaa... Ini buncit yang selalu ditungu para wanita bersuami, sayang. Buah hati kita di sini." Jawabmu, sambil mengambil tanganku dan diarahkan ke perutmu yang menggunung. 
Kuelus dengan perlahan dan halus.
Kuarahkan mukaku ke perutmu seraya berbisik,
"Sayang, sayangilah ibumu tersayang, sebab ayah menyayanginya seperti menyayangimu." 
"Bisakah kakak menggunakan kalimat sederhana untuk anak kita yang belum lahir?"
:) Aku mencintaimu, Adik.

Jumat, 20 Februari 2015

Dua Kisah dalam Satu Mimpi Pagi

200215
Pada suatu mimpi yang pagi. Aku, kamu, Wu Lao Shi, Mayni, Ojan, dan Fahmi dalam satu mobil yang melaju kencang menerjang secepat lari kijang. Menjauhi mara bahaya yang gencar mengincar. Membuat seluruh jantung berdegub luntang-lantung. Lalu kita lolos. Selebrasinya kucium temanku yang driver.

"Ngapain sih gitu?!" Katamu membentak dengan wajah merah mengharap.

"Ini hanya..." Tak kulanjutkan kalimatku sebab aku mengerti maksudmu. Setelah memandang matamu. Kenapa aku selalu mengerti? Atau jangan-jangan hanya sok mengerti pintamu?

Badan kuangkat, kedua lengan kujulurkan, pandangan kuisi dengan air keseriusan. Kemarilah, sayang! Batinku. Kau melakukan hal yang sama. Kau duduk di bangku tengah dan aku di bangku depan. Lalu kita berciuman mempertemukan kerinduan-kerinduan yang menghantam dan menghujam. Empat bola mata terpejam. Bukan petang, tapi warna madu yang mengelilingi kita. Warna penuh gelora romansa. Kau menambah dengan bisikan-bisikan kecil.


"Bagaimana rasanya, kak?" Kau bertanya dengan sesegukan bersela senyum dan tawa ringan. Aku tak menjawab, hanya tersenyum. Kau merayuku padahal kita sedang memadu rindu? Kita terus berpangutan seperti ular berlilitan. Matamu berlinang airmata senang. Pipimu tertarik ke samping pertanda senang. Kau memeluk ringan senang.
***
Terus begitu hingga kita menembus ruang dan waktu.

Setelah kubuka mata, tidak lagi berada dalam mobil; tidak ada teman, tidak ada dia. Ciuman barusan telah mengantarkanku pada mimpi yang lain dalam tidur pagi yang satu.

Seluruh sekitar berwarna putih polos seperti dipoles. Lalu terbentuklah sebuah suasana. Seperti gambar kerayon anak kecil. Terbentuk satu-satu. Aspal, gedung, kafe, pohon, matari, bayang, mobil, semuanya seperti hantu yang tiba-tiba muncul tanpa syarat.

Aku sedang menjadi dosen di tengah jam tayang. Mahasiswaku banyak sekali. Seperti dalam film Love in Harvard. Posisi duduk mahasiswa seperti di bioskop. Semakin ke belakang semakin meninggi.

Satu mahasiswi kritis tapi memaksa. Maksudku, teori yang diajukannya tidak searah dengan pembahasan kuliah. Dia terus saja ngotot. Maka kutumpas segala alasan logisnya hingga tumpul. Sehingga seluruh mahasiswa terbahak menertawakan teori konyolnya. Lalu dia bangkit, turun dari posisi duduknya yang berada di pojok kanan atas. Wajahnya sangat familiar menurut memori otakku. Astaga! Kau...

"Tega sekali kau, kak!" Umpatnya saat berada di depanku. Mengapa aku tak menyadari sikapnya yang ngotot begitu? Suaranya yang melengking mengiris? Yang tak mau kalah?

"Adik,..." Lagi, tak mampu kulanjutkan. Matanya telah menjelaskan semuanya. Tentang manjanya, tentang rajuknya, tentang inginnya. Dia melangkah keluar kelas.

Perkuliahan kuhentikan seketika. Mimpiku telah berfokus pada satu orang. Dan seketika, suasana yang awalnya damai tiba-tiba saja menjadi riuh. Seperti gemuruh dalam dada.

"Adik,..." Dia menoleh. Sebelum beranjak menjaga jarak, kupegang tangannya dan dia langsung melompat  memelukku. Erat sekali. Tak mau lepas. "Jangan tinggalin adik, Kak," pintanya penuh rasa. "..." Aku diam, meresapi segala rasa yang dipendamnya dalam-dalam.

Pelukannya terus melekat erat. Segala rasa ditransfer lambat menjalari badanku yang kian hangat. Aku berjalan melambat seperti orang sekarat. Walau sebenarnya aku sedang dalam kondisi sehat. Aku membawanya ke kamar, kulepas pelukannya yang membuat badanku sedikit memar. Matanya memerah, senyumnya merekah, kerudungnya terlepas lemah, rambutnya terurai sedikit menutup matanya yang terkatup, air wajahnya memucat.

"Kak, jangan tinggalin adik!" Pintanya lagi dengan suara lemah. Aku tak langsung menjawab. Kudaratkan kecupan ringan di keningnya dengan tempo cukup lama.


"Jangan hawatir. Kakak sekarang bersama adek." Sambil kusingkap rambutnya dari pandangan matanya yang sayu. "Tidurlah! Kau kecapaian." Tapi tangannya tetap menggenggam erat tanganku. Seolah aku akan meninggaklannya di lembah gelap sendirian.


Lalu tidur pagiku menguar. Kesadaranku langsung tertuju padanya. Ah, pasti dia sedang merindu. Aku terbangun dari tidurku. Lalu kutulis sebagai bukan catatan harian plus ditambah sedikit imajinasiku.

Senin, 16 Februari 2015

Lima Cerita tentang Cerita Lima Manusia

NAILA
Namanya Akmala tapi kupanggil Naila atau Nela. Pertama aku bertemu dengannya di kampus tosca. Seperti sudah diatur, jadwal kuliahku selalu bersebelahan kelas dengannya. Naila orangnya pemalu tapi kadang juga pemberani. Malu saat kudekati dan berani memanggilku dengan sebutan oppa* saat jauh. Sepertinya, panggilannya memang sengaja dilontarkan dalam jarak pendengaranku, supaya dapat kudengar. Jinak-jinak merpati.

Aku bukan lelaki cemen. Seolah dia memberi lampu hijau, kudatangi kelasnya. Saat itu dosennya tidak ada, entah kemana. Kuajak berbincang beberapa mahasiswa sekelasnya. Tentang apa saja. Niatku cuma satu; ingin bicara dengan Naila. Satu kursi panjang tersiapkan di depan kelas. Fungsinya untuk menunggu datangnya dosen. Tiga mahasiswi duduk di sana.

"Kosong? Siapa dosennya? Kuliah apa?" Memang sengaja kujejal banyak pertanyaan. Satu tanya kusiapkan buat satu orang. Tapi sepertinya tidak berhasil.

"Alaaahh, tidak perlu basa basi, mau ketemu Akmala kan, eh Naila kan? Neell... keluar bentar gih! Nih ada tamu dari Pluto." Bibah, mahasiswa yang suka blak-blakan langsung nyerocos tak berpagar.

Naila keluar kelas. Wajahnya bercampur malu, takut, senang, dan pucat. Rasa malunya terlihat jelas dari raut tipis di pipinya yang ditarik-kembungkan. Rasa takutnya terdengar dari degup jantungnya yang patah-patah. Rasa senangnya terlihat dari raut alisnya yang sedikit terangkat, pertanda semangat. Dan wajah pucatnya tercermin dari air mukanya yang kusut. Sepertinya Naila kecapekan. Dia menjadi ketua panitia seminar nasional tentang gender tiga hari yang lalu.

"Ada apa, Mas?" Bibirnya bertanya kaku.

Aku diam tak menjawab. Tersenyum memandang matanya. Lalu Naila juga diam tak bersuara. Hanya tersenyum memandang mataku. Seolah seluruh kata telah lenyap ditelan angin, seluruh suara ditelan makna. Dan makna teragung dalam bicara ialah tanpa kata, tanpa suara. Kita semua saling paham hanya dengan saling tatap. Hingga esok hari. Hingga kita menikah di hari berkah penuh hikmah. Bahagia tiada susah. Dan punya rumah semegah istana, yang diisi sepuluh anak-anak manis.

*kakak/sayang; nada manja
Selesai ditulis 120215

SRIWAH
Sebab namamu yang tak mungkin kulupa bahkan sebelum mengetahuimu sebegitu rupa. Sri Wahyuni. Adakah anak yang lupa nama ibunya sendiri? Kecuali anak buangan. Kecuali anak yang tak diharapkan.

Kau begitu histeris saat pertama kutatap kau dalam orientasi mahasiswa baru. Menjerit sungguhan. Sungguhpun kurasa kaget. Dan kau menutupnya dengan senyum manismu. Kala begitu, bentuk wajahmu kian unik penuh daya tarik. Pipimu melembung. Kantong matamu membentuk gundukan mungil, membuat matamu terlihat sipit. Seperti lentera, matamu berkilau.

Hari-hari berikutnya, saat bertemu, pasti kumenggodamu. Kau tersenyum. Kala begitu, bentuk wajahmu kian unik penuh daya tarik. Pipimu melembung. Kantong matamu membentuk gundukan mungil, membuat matamu terlihat sipit. Seperti lentera, matamu berkilau.

Senyummu tak putus-putus. Hingga saat kuutarakan bahwa aku sudah hampir tunangan dengan perempuan lain. Saat itu, mukamu membatu. Pipimu seperti mengeras. Matamu basah, terlalu basah untuk sepasang mata. Alismu mengering. Air mukamu membentuk sekolam aura beracun. Dan kuakui, racun itu berasal dari sumber beritaku.

Kata maafku tak mungkin sebegitu mudahnya kau terima. Kusadari itu. Kuberi kau waktu diam. Sebulanan. Mungkin sebab sayangmu yang sangat padaku, dengan segenap keberanian, kau hubungiku. Tentu saja aku kaget. Dan merasa bersalah. Kau begitu tulus. Masih menyayangiku meski sudah jelas-jelas kusakiti hatimu dengan belati beracun. Lalu kita menikah. Hari menjelma berkah penuh hikmah. Bahagia tiada susah. Dan punya rumah semegah istana, yang diisi sepuluh anak-anak manis.
Selesai ditulis 120215

NOVITA
Novita namanya. Pertama bertemu dengannya saat acara pembukaan festival kebahasaan. Aku sebagai pembina lapangan dan dia sebagai mc atau pemandu acara. Sesuai acaranya, maka mc menggunakan bahasa asing; arab, inggris, mandarin. Sebelum acara dimulai, dia mendatangiku, bertanya tentang susunan kalimatnya. Sepintas, aku sudah tertarik hanya dalam beberapa detik. Tidak lebih dari duapuluh detik. Setelah itu aku melupakannya.

Kali kedua saat tak sengaja aku menjadi mentornya dalam kegiatan ekstra kurikuler kampus. Di ahir pertemuan di luar jam kelas, dia meminta nomorku. Katanya untuk konsultasi lanjutan, sebab tiga hari lagi libur panjang.

Libur panjang tiba. Dia bertanya banyak sekali tentang apa saja. Dan seperti yang bisa ditebak, kita saling berkisah tentang apa saja, termasuk asmara pribadi. Inti dari komunikasi ini, aku tertarik padanya dan dia meminta solusi agar bersama lagi dengan mantannya. Aku tidak peduli. Untuk saat ini berkomunikasi dengannya saja sudah membuatku senang.

Dia benar-benar kembali pada mantannya.

Tiga bulan berikutnya dia datang padaku. Mengadu bahwa mantan pacarnya tetap berlaku nakal. Rasa mangkel sudah bergumul dalam dada, tapi kutahan-tahan. Dia nangis sebab rasa rindunya pada mantannya. Ah, lagi-lagi. Kenapa harus nangis demi orang lain di depanku? Dan, ya, aku sadar, aku bukan siapa. Aku hanya tempat dia bercerita. Dan aku selalu siap mendengarkan dan menentramkannya dengan celoteh-celoteh yang entah.

Sebulan kemudian, kami saling akrab. Lebih akrab dari sebelumnya. Mengarah pada semacam hubungan. Canda nikah mulai terlontar. Mimpi-mimpi mulai berani kulangitkan. Kan kujadikan kau biniku. Intrik pendekatan mulai kupelajari dan kugunakan yang menurutku pas. Dia terlihat seperti juga menyukaiku.

Lalu kulamar dia. Dia tersenyum bangga sebelum menjawab iya. Orangtuanya mulai menyukaiku. Tiga bulan berikutnya kami nikah. Pada hari berkah penuh hikmah. Bahagia tiada susah serapah. Dan punya rumah semegah istana, yang diisi sepuluh anak-anak manis.
Selesai ditulis, 130215

KOTA TUA
Suatu hari ada seorang lelaki berjalan di kota tua. Memasuki rumah tua. Menyelusuri tiap detail pada gedung, jendela, daun pintu, hingga aksesoris di dalamnya. Semuanya telah berumur tua. Kemudian lelaki itu bertemu dengan perempuan dan muncullah perbincangan berikut;

"Sepertinya hadirmu di sini diutus Tuhan untuk menjadi pendampingku. Maukah kau?"

"Mau apa?" Perempuan itu menjawab dengan pertanyaan.

"Menikah,"

"Boleh,"

Kemudian keduanya menikah. Bahagia tiada susah serapah. Segala kebutuhannya terpenuhi. Rumahnya megah bak istana dan diisi anak-anaknya yang banyak dan lucu-lucu. Sepuluh anak-anak manis.
Selesai ditulis 130215

DEE
Aku mendengarnya dari teman kosku. Bahwa ada adik tingkat yang menyukaiku. Dee. Begitu aku memanggilnya. Orangnya mungil, bermuka bulat, matanya juga bulat, cara bicaranya juga bulat, sampai-sampai mulutnya ikut membulat.

Kudekati dia. Kudatangi orangtuanya. Kuminta anaknya. Ayahnya menatapku tajam dan lama sekali. Kedipan mata ayahnya singkat dan cepat. Pertanda sedang sangat fokus menilaiku. Ayahnya hanya menanyakan satu pertanyaan dalam satu kata.

"Siap?"

Akan sangat bodoh jika aku tak paham maksudnya. Aku tak menjawab. Tapi kuulurkan tanganku.

"Saya bersedia akad sekarang." Jawabku mantab.

Maka akad dilaksanakan saat itu juga. Dee dipanggil keluar. Mata bulatnya menangis. Bahagia yang sangat. Dua tetangga dipanggil dijadikan saksi. Kami nikah. Memiliki rumah istimewa. Besar. Dan sekarang sudah berisi selusin anak kami yang nakal-nakal tapi baik. Lucu dan manis.

Selesai ditulis 140215

Minggu, 18 Januari 2015

Gadis Hujan (Empat)


Pada Mulanya,

Semua berawal dari pelatihan jurnalistik yang diadakan oleh perpus daerah. Demi menjaga tradisi cinta ilmu, lebih-lebih dalam tulis-menulis --dan tentu saja membaca. Orang luar itu, luar daerah, menjadi penyaji di bangku depan menghadap kami. Lelaki itu mengawali dengan perkenalan. Menyebut dirinya sebagai teman, bukan guru. Tidak aneh dalam dunia pesantren.

Tapi, itu hanya terjadi satu kali. Menurut jadwal, tiap minggu diadakan sekali pertemuan. Minggu-minggu berikutnya dia tidak datang. Mungkin bertabrakan dengan agendanya yang lain. Seperti orang sibuk saja. Saat itu tidak ada kesan yang luar biasa darinya. Malah cenderung abai.

 Setelah itu tidak ada kabar. Sekitar dua atau tiga bulan.

Memang masih tidak bertemu muka dengannya, hanya saja seperti sudah direncanakan. Entah bagaimana dia atau aku menghubunginya, melalui pesan singkat di fesbuk. Lalu saling tukar pin bbm. Dan berbagi nomor hp. Di sini semua rasa berawal. Kesesakan-kesesakan dalam dada mulai membentuk, membengkak dan menghentak.

Perbincangan awal masih tentang jurnalistik. Belajar menulis tercepat ialah dengan membaca tulisan orang lain. Ingin menulis opini, baca opini orang. Menulis puisi, baca puisi orang. Cerita, baca cerita orang. Begitu saran yang pernah diberikannya lewat pesan bbm.

Di mana pun tidak mungkin ada pertemanan antara lelaki dan perempuan. Akan selalu ada rasa lain yang muncul. Begitu pun aku. Sebagaimana topik pemuda, seserius apapun sebuah perbincangan antara lelaki dan perempuan, tetap akan beralih pada kisah asmara.

Semua tanpa rencana. Aku bercerita padanya bahwa aku menyukai hujan. Dia menawariku buku tentang hujan. Dan dia mendatangiku di sela aku dalam agenda organisasi ekstra kampus. Membawa buku berwarna madu. Warna yang manis. Warna yang romantis. Lima menit kami berbincang sejenak tentang penulis dan buku. Seolah kami saling pamer seberapa banyak buku yang pernah dibaca. Sepertinya dia lebih banyak membaca.

Liburan kampus tinggal seminggu dan aku harus menyelesaikan bukunya sebelum itu. Katanya, kau boleh membaca buku ini lebih dulu tapi dengan syarat. "Apa?". Kau harus menceritakan isinya. "Waduh, baiklah. Tak apa." Jawabku. Sebelum libur kampus kembalikan ya! "Tak masalah,".

Tiga hari sebelum liburan kuselesaikan membacanya. Dia mendatangiku lagi untuk mengambil bukunya. Tidak banyak perbincangan yang dibuat. Sekitar satu menit bertemu. Lalu dia pergi. Dia pandai sekali mencipta momen yang minimalis.

Liburan telah tiba. Aku pulang ke rumah. Dia menghabiskan liburan di Jakarta. Ada urusan penting, katanya. Apa aku tidak bengitu penting baginya?

Saat itu lah rasa rindu mulai memburu. Aku juga tidak tahu bagaimana asalnya. Tiba-tiba saja aku memikirkannya. Membayangkannya. Mendamba kehadirannya. Merasa jengkel jika bbm tak berbalas. Seakan-akan, tanpanya aku merasa dehidrasi. Berita tentangnya ibarat air laut. Semakin banyak kuteguk, semakin haus dan aus tenggorokanku.

Ada yang menggangguku dalam berinteraksi kata (sms atau bbm) dengannya. Dia selalu menunda menjawab, maksudku dia biasa lama menjawabnya. Atau aku yang terlalu buru-buru?

Aku memanggilnya kakak, tapi dia tak memanggilku adik. Sering sekali aku memanggilnya sayang, dia hanya sekali memanggilku sayang. Apa aku terlalu berharap lebih?

Takut sekali aku ditinggal dia. Apa ini rindu yang wajar? Pernah aku merindukannya dengan seluruh badanku. Maksudku, aku menggigil, seolah serat otot dan aliran darah dipenuhi cairan rindu. Hampir-hampir aku menangisinya tanpa alasan. Apa ini rindu yang wajar? Padahal hanya tiga kali bertatap muka. Entah bagaimana sebenarnya perasaannya padaku. Yang jelas hatiku saat ini dipenuhi cairan rindu.

Pernah sekali kuperhatikan beranda fesbuknya. Ada potret wanita yang ditandai bersamanya. Entah apa, hatiku dongkol, dadaku sesak, air mukaku mengeras. Apa ini yang disebut cemburu? Apa aku sebegitu menyayanginya? Padahal dia belum apa-apaku, status juga tak jelas. Tanpa sadar, aku bersikap ngambek padanya. Bodoh sekali. Untungnya, dia berusaha mendinginkanku dengan menyangkal bahwa potret tersebut bukan berarti penting. Nadaku tetap merengut tapi hatiku tersenyum.

Dia paling sering menggunakan kata ibarat dan pengandaian. Seperti pertama dia merayuku, istilah teman lelaki diibaratkan polisi. "Aku takut rindu padamu, takut ditilang polisimu." Hahaa. Gombal dan modus!
Ini beberapa pesan singkatku dengannya.
Hati-hati di jalan, jaga hati! Kataku.
Jangan hawatir, rusukku masih kuat kog.
Hehee. Moga aja selalu kuat.
Ya, semoga kamu kuat.
Insyaallah, akan selalu kuat jika dirawat. Jika kau siap merawat, pasti akan kuat.
Seperti menanam tanaman di pot. Tak bisa ditinggalkan. Harus disiram jika ingin berbunga. Tak bisa mengandalkan hujan semata.
Jadi kusarankan, jangan pernah tinggalkan bunga itu. Biar tak mati.
Apa aku menanam bunga manja yang rapuh? Kuharap tanamanku lebih kuat dari kaktus. Ditinggal lama oleh hujan dan masih setia menunggu, walau terlihat sekarat.
Jadi kau tak suka bunga manja?
Bukan begitu. Aku tidak suka bunga mati. Apalagi bunga plastik.
Hmm~ terus gimana maunya? Aku ingin jadi bunga yang kaumau.
Jangan berubah. Jadilah bungamu sendiri! Itu lebih menarik sebab aku tak tau.
Oke. Bisa merawat bungaku?
Aku...sedang merawatnya. (Manis sekali! Tentu saja respon ini tak kusampaikan padanya. Dia melanjutkan,) Walau belum tau itu bunga apa. Yang jelas harus dirawat supaya tau itu bunga apa.
O ya? Terimakasih. Aku janji akan jadi bunga yang kau inginkan.

Dan tiap kali kutanya sedang apa, selalu dia jawab dengan sedang baca buku. Aku heran mengapa dia suka sekali membaca. Atau jangan-jangan itu hanya alasan cerdasnya untuk memperdaya aku. Bahkan kadang aku merasa cemburu pada buku yang selalu dia pegang, selalu dia bawa, selalu dia baca, selalu dia renungi, selalu dia pikirkan. Bodoh sekali! Bisa-bisanya aku iri pada buku.

Sudah pernah kukatakan kalau dia menyebutku Gadis Hujan dan aku memanggilnya Lelaki Berpayung? Ya, aku menyebutnya demikian. Dia memberiku buku tentang hujan. Covernya manis sekali.


Probolinggo, 10 01 15

Minggu, 04 Januari 2015

Seorang Gadis dan Hujan Murung

 Kata gadis itu, hujan adalah mahluk Tuhan yang hidup. Bisa merasakan dan mengeluarkan emosi seperti manusia. Juga bisa diajak bicara. Tapi bagiku, itu semua hanya bisa ada dalam dunia fiksi hayal, tidak dalam kenyataan. Walau sudah kuutarakan alasan selogis mungkin, gadis itu ngotot berpendapat bahwa hujan dapat berkomunikasi. Setelah kalian baca tulisan ini hingga tuntas, nanti kalian akan tahu, mengapa tulisan ini kuberi judul Seorang Gadis dan Hujan Murung.
Pada suatu waktu gadis itu bercerita padaku.
"Kan kubuktikan bahwa hujan itu mengeluarkan emosi. Pernah kan hujan turun dengan butir besar-besar, sebesar biji jagung atau bahkan sebesar kelereng. Itu hujan pemarah dan terburu-buru. Dia datang tanpa pamit. Tidak mau tau matahari sedang cerah atau langit sedang terang. Orang yang marah bersuara keras-keras. Hujan pemarah juga bersuara ramai. Dengarkan saja bunyinya saat tertahan kaca mobil atau jatuh di atap seng. Tapi, hujan pemarah tidak pernah lama. Memang begitu seharusnya, marah jangan lama-lama."
Aku hanya tersenyum belibis mendengar penjelasannya. Gadis aneh.
"Jangan tersenyum dulu. Aku belum selesai. Kedua, hujan pemalu. Dia turun sembunyi-sembunyi. Tiba-tiba saja tanah membasah. Ujung daun membentuk butiran bagai embun. Hujan pemalu turun tidak ada yang menyadarinya. Konon, tanaman pun tak menyadari kedatangannya. Aku tau hujan pemalu dari hujan cantik."
Hujan cantik? Penjelasan yang lebih aneh. Tentu saja aku tak mengatakannya pada gadis tersebut.
"Ketiga, hujan cantik. Kalau mau turun bertemu bumi, hujan yang satu ini selalu berdandan terlebih dahulu. Butirannya dipoles sebasah mungkin. Jatuhnya akan ditata sekalem mungkin. Dan mereka menghadap bumi dengan riang. Bocah-bocah mungil paling suka pada hujan cantik. Mereka akan saling bersorak melempar senang. Membikin tangannya mirip mangkuk dan menampung hujan cantik sebanyak mungkin. Tapi tetap saja, tangan anak kecil tak pernah mampu menahan air walau hanya satu cangkir."
Aku selalu dimarahi ibuku waktu kecil jika mandi hujan. Apa karena ini aku memusuhi hujan? Gadis itu melanjutkan.
"Keempat, hujan pilih kasih. Dia hanya turun di daerah yang di tanahnya terdapat kekasihnya,..." Hujan punya kekasih? Batinku. "Aku pernah melihat hujan sedang apel dengan pacarnya. Belahan tanah utara membasah dan bagian selatan tetap kering, seolah tak dikenal. Pemisahan hujan pilih kasih ini membentuk garis lurus dan panjang seperti garis ufuk pemisah kaki langit dan rambut laut. Dia berbincang dengan pacarnya dengan suara semerdu tetesan air. Hujan merayu tanpa kata-kata. Hanya membasahi kekasihnya dengan air cinta."
Apalagi ini? Hujan pilih kasih? Membasahi kekasihnya dengan air cinta? Macam pacar dengan pacarnya yang banyak saja. Pilih kasih, memilih seseorang yang hanya dikasihi saja? Entah otak gadis ini telah diisi dengan kamus hujan atau entah.
"Kelima, hujan putus asa. Sebenarnya hujan putus asa datang di saat yang tepat, di tanah yang membutuhkan siraman. Tetapi bumi sekarang tidak lagi berlantai tanah semua. Jika diperhatikan, kawasan yang rawan banjir adalah daerah yang tanahnya tertutup semen atau beton aspal. Kehadirannya selalu dipandang sebagai musibah. Sayang sekali, hujan tidak bisa memntukan sendiri kapan akan turun. Jika Malaikat mulai memetiknya dari awan legam, kata tugasnya telah tiba. Turun ke bumi dengan rasa putus asa. Seperti orang mengantri mendapat hukuman, tidak dapat giliran kecuali telah dipersilahkan. Banjir selalu berasal dari hujan ini. Aku kasihan sekali. Manusia serakah dan sombong selalu mencari objek lain yang disalahkan. Padahal tidak ada hujan yang salah."
Hujan putus asa? Maka hujan sukses atau senang, seharusnya juga ada. Tapi aku tak yakin akan benar-benar ada. Gadis itu berkisah tentang hujan lancar sekali. Seolah dia memungut kata-katanya dari udara kosong di sekelilingnya. Aku tak mau otakku jadi kisut gara-gara mendengar deskripsinya. Dan aku masih bertahan. Diam tak berkomentar.
“Keenam, hujan penyabar. Hujan datang sedikit-sedikit dengan butiran kecil-kecil dan dalam jangka waktu yang lama. Aku pernah bermain dengan hujan penyabar selam tiga hari tiga malam. Bermain dengannya harus ekstra sabar. Soalnya rembesan hujan bisa masuk ke sela rumah mana saja. Asal ada cela, dengan sabar hujan ini merangkak masuk. Hujan penyabar tugasnya untuk menyejukkan bumi dan langit. Lalu, hujan sekanjutnya adalah hujan…”
"Sudah, sudah! Aku tahu kau masih punya banyak macam-macam hujan, sebanyak macam-macam orang. Sudah mendung, mending kita pulang. Mumpung belum hujan..."
"Aku punya satu harapan pada hujan.” Katanya memotong. “Aku ingin pergi bersama hujan. Menjadi hujan."
"Pasti jika kau jadi hujan. Kau akan menjadi hujan pemurung! Hahahaa"
Dia tidak tertawa. Mukanya datar. Muram. Tidak seceria saat dia berkisah tentang emosi hujan. Hujan yang turun seperti hujan pemalu, diganti dengan hujan ceria, menjelma hujan pilih kasih, ditumpas oleh hujan peramah. Gadis itu berdiri, melangkah, mendekati hujan.
Tangannya menengadah menahan hujan. Tetes hujan yang mengenainya tidak jatuh ke tanah. Menyerap pada badannya seakan badannya berasal dari kain tisu. Kerudungnya membasah. Semakin basah warnanya menguar. Dan hilang. Kini rambut legam sebahu terlihat menggilap. Membentuk aliran air yang rapih. Semakin basah, rambutnya merubah warna sewarna dengan hujan. Semua hujan yang mengenai tubuhnya, diserapnya dengan rakus. Seolah badannya terbuat dari pasir.
Tiap helai benang tidak lagi menutupi badannya. Kulit yang awalnya berwarna sawo matang sedikit demi sedikit berubah warna. Warna basah. Rias sederhana di wajahnya juga berganti rias basah. Detak nafasnya berubah embun. Seolah dalam badannya sedingin lemari es. Suaranya tidak lagi terdengar, sesenyap suara kepul asap es. Aku heran sendiri, mana mungkin bisa jadi begitu.
Astaga! Gadis itu berubah jadi hujan. Ya, hujan. Bukan air. Badannya seperti air yang dibentuk dengan bentuk seorang wanita. Lama-lama genangan air itu pecah membentuk mozaik berstruktur hujan yang halus. Pecahan airnya tidak turun ke bumi, tapi melangit. Membumbung tinggi menggapai awan tertinggi. Menjadi hujan seperti keinginannya. Hujan yang... murung. Sifat murung hujan ini terfragmentasikan pada kekasih yang ditinggal hilang tanpa kabar. Setiap ada kekasih yang disakiti, hujan murung akan turun. Hujan yang kuyup seolah tidak ada kesedihan yang lebih basah ketimbang hujan murung.
Mobil Menuju Jakarta, 02/01/15

Radar Bromo, 08 Februari 2015